Sabtu, 27 Juli 2013

Seperti setiap pulau yang pernah disinggahi badai

well, hi
berhubung puisi-puisi sekarang sudah saya puublikasikan di blog tersendiri, dan kemarin-kemarin ini saya cukup produktif, jadi saya jarang berkunjung ke blog ini
Banyak yang terjadi belakangan ini, ya mungkin kali ini jatah saya untuk merasakan yang namanya kehilangan
saya tahu tidak ada manusia yang bisa mendapatkan segalanya. Dulu disaat saya punya seseorang yang menurut saya sahabat terbaik saya, saya merasa dialah keluarga saya. Saat itu saya memang tidak begitu akur dengan keluarga saya. Kemudian disaat saya mendapat banyak teman, sahabat-sahabat saya mendapat banyak teman, kami menjadi agak jauh dan berbeda. saat saya mendapat kan kelas yang akur dan harmonis, saya mulai kehilangan sahabat-sahabat saya, dan kemampuan akademik saya.

Kemudian saat saya mendapatkan keluarga saya kembali, saya kehilangan sahabat dan beberapa teman-teman saya karena suatu keadaan. Saat saya mendapatkan kemampuan akademik saya kembali, saya mendapatkan teman-teman baru, tapi saya kehilangan teman-teman saya. Saat saya mendapatkan kembali suara saya, semuanya hilang. Dan sekarang saya merasa hanya keluarga saya yang tersisa dan beberapa teman yang mungkin mengasihani saya.

Entah kenapa ini seperti "give and take". Kita mendapatkan sesuatu seiring dengan kehilangan sesuatu. Beberapa waktu yang lalu ada seorang teman yang "mendadak" depresi. Saat itu saya berfikir bagaimana bisa seorang periang dan banyak teman seperti dia depresi, nilainya bagus, organisasi jalan. Mungkin ini jawaban yang diberikan Allah pada saya, tidak perlu bertanya pada teman saya itu, saya rasa saya sedikit dapat merasakan apa yang dia rasakan. Apa gunanya jadi periang, jika sekitarnya bahkan tidak menyadari keberadaannya, apa gunanya tersenyum ketika tak ada satupun teman yang melihat senyumnya, apa gunanya menyapaketika temannya tak membalas sapaannya, tak mendengar sapaannya. Apa gunanya nilai baik jika yang didapat hanya tatapan sinis dan dimanfaatkan. apa gunanya teman banyak tapi ketika susah tidak ada yang mengulurkan tangan.

Saya mungkin bukan teman dekatnya, tapi setelah apa yang saya alami, saya merasa seandainya saya melihat tanda-tanda yang dia coba kirimkan pada kami semua. Tidak ada kata-kata "mendadak" depresi, yang ada hanya kita yang tidak begitu saling memahami.

Kemarin lusa mungkin adalah hari terberat yang pernah saya alami selama ini. Setelah nilai saya ambruk, nafas saya yang entah belakangan ini menjadi pendek-pendek sehingga produksi suara saya buruk, teman-teman saya yang seperti sudah tak menginginkan saya, pertengkaran saya dengan keluarga saya, sahabat-sahabat saya yang berada jauh dan tidak berani saya bebani dengan masalah saya, hati saya yang menyadari tak ada yang bisa saya percaya. Saya tidak bisa tersenyum, tidak bisa makan, tidak bisa tidur, bahkan selama dua hari puasa itu, saya berbuka dengan airputih, lalu sahur kembali dengan air putih. Di sela-sela itu saya hanya menangis, menahan teriakan saya, mencoba menonton film komedi, kemudian menangis lagi, begitu seterusnya. Tidak ada tujuan hidup, karena semua tujuan saya untuk tahun ini dalam beberapa bulan semuanya sirna. Saya merasa ingin mati, karena saya pikir saya hidup pun sendiri. Tidak ada yang peduli, tidak akan ada yang menangis bersama saya, tidak ada yang bisa dipercaya. Sampai saya memaksakan diri saya ke kampus demi tugas protokoler saya, paduan suara. Masih banyak senyum disana, masih banyak tawa, masih ada yang menemani saya, dan sepertinya memang itu yang paling saya butuhkan saat itu.

Simple sekali. Seandainya saat itu ada yang menemani teman saya itu. Ada yang tersenyum padanya terlepas apapun kondisi yang sedang dia hadapi. Ada yang mengajaknya tertawa. Mungkin peristiwa "mendadak" itu tidak perlu terjadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar