Jumat, 09 Desember 2011

opini

Kemarin saya dan teman teman mendapatkan matakuliah sosiologi KG. Pagi itu kami mendapatkan pelajaran tentang dentistry global future. Awalnya kuliah ini menyinggung tentang kemajuan kemajuan yang diprediksi akan terjadi di dunia kedokteran gigi mendatang. Kemajuan teknologi, kemajuan kesadaran masyarakat, dan peningkatan kebutuhan masyarakat dunia akan kesehatan dan kecantikan seputar gigi dan mulut. Kami mendengarkan secara seksama dan antusias. Saya tidak tahu apa yang teman teman lain pikirkan, tapi saya pribadi merasa jika hal ini terjadi maka tentunya saya akan bahagia. Bukan hanya karena iming-iming materi yang nantinya didapatkan tapi lebih karena kesadaran masyarakat akan kesehatan gigi dan mulut. Perlu diketahui saat kemarin saya ikut menjadi panitia salah satu acara amal yang di dalamnya terdapat pengobatan dan perawatan gigi gratis, saya heran dan prihatin karena kenyataannya di lapangan sangat sedikit masyarakat yang datang untuk memeriksakan giginya. Jauh dari ekspektasi saya.
Terlintas di benak saya jika nantinya di masa mendatang kesadaran masyarakat akan kesehatan gigi dan mulut sudah membaik, tentunya acara-acara amal ini akan ramai dengan masyarakat yang antusias. Selain itu ketika saya dan teman teman saya sudah menjadi dokter gigi, ruang tunggu pasien kami tidak sepi dan yang datang tidak hanya karena giginya sudah mengalami karies yang parah, tapi lebih ke kontrol dan pencegahan. Tentunya saya sebagai manusia juga berharap mendapatkan penghasilan yang layak, saya tidak akan menampik keinginan saya mendapatkan materi yang cukup syukur syukur berlebih.
Tiba tiba kami mendapat info mengejutkan dari dosen yang sama, di matakuliah yang sama, dalam jam yang sama, di hari yang sama, bahwa nantinya 2014 akan ada national security dimana akan ada jaminan kesehatan untuk seluruh warga negara. Para dokter gigi akan dikontrak dan digaji oleh negara dengan kondisi tidak boleh memungut biaya dari perawatan dan pengobatan yang diberikan pada pasien atau dengan kata lain memberi pengobatan secara cuma-cuma. Sebenarnya hal ini adalah berita yang baik, tapi sayangnya ada kekurangan dalam kebijakan ini yaitu masalah gaji yang diberikan negara pada dokter gigi yang dikontrak. Sebenarnya hal ini masih belum fix, tapi jika hal ini benar benar direalisasikan, sungguh betapa malangnya nasib para dokter gigi di Indonesia. Bagaimana tidak, nantinya setiap dokter gigi akan diberi tanggung jawab sekelompok penduduk lalu kerja keras dokter gigi akan dhargai 800 rupiah per kepala. Bayangkan saja jika satu dokter gigi diberi tanggung jawab 2000 kepala maka per bulan dokter gigi akan digaji oleh negara sebesar 1.600.000 rupiah. Bisa bisa dokter gigi akan punah lama kelamaan. Kenapa? karena gaji itu bahkan tidak akan membuat dokter gigi balik modal, bahkan bisa bangkrut. Berbeda dengan dokter umum, dokter gigi memerlukan berbagai fasilitas, alat, bahan dan tenaga dalam menjalankan tugas. Dental chair yang dipakai untuk tempat pasien saja harganya sekitar 90 juta ke atas, belum lampu, tang, bor, alginat, kuvet, dsb. Menyedihkan bukan? Sedangkan katanya (belum pasti) dokter umum akan diberi gaji 20.000 rupiah per kepala. Kini kami hanya dapat berdoa semoga saja para dokter gigi senior yang sedang memperjuangkan hak hak kami para calon dokter gigi dan para dokter gigi kedepannya dapat berbuah berita bahagia. Semoga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar